“Banyak anak banyak rejeki” adalah sebuah semboyan yang banyak berpengaruh terhadap pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia. Pasca Kemerdekaan Republik Indonesia, Euphoria kemerdekaan diikuti dengan peningkatan secara signifikan jumlah kelahiran anak. Inilah awal mula penduduk Indonesia bertambah secara drastis sejak tahun 1950-an.

Kesadaran untuk mengendalikan jumlah pertambahan penduduk muncul di tahun 1957 tepatnya tanggal 23 Desember. Program Keluarga Berencana mulai dipelopori oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia atau PKBI. Namun karena pemerintah yang berkuasa pada saat itu tidak mendukung KB maka program KB dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh para aktifis dan sukarelawan. Hal ini terus berlangsung hingga masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto, Program Keluarga Berencana mendapat pengakuan dan justru dimasukan dalam program Pemerintah Orde Baru.

Haryono Suyono adalah penggagas Hari Keluarga berencana Nasional. Kepada Presiden Soeharto, Haryono menyampaikan tiga pokok pikiran yaitu : 1) Mewarisi semangat kepahlawanan dan perjuangan bangsa, 2) Tetap menghargai dan perlunya keluarga bagi kesejahteraan bangsa, 3) Membangun keluarga menjadi keluarga yang berkerja keras dan mampu berbenah diri menuju keluarga sejahtera. Presiden Soeharto menyetujui gagasan tersebut dan lahirlah Hari Keluarga Berencana Nasional yang diperingati setiap tanggal 29 Juni. Adapun pemilihan tanggal 29 Juni dikarenakan pada tanggal dan hari tersebut tentara Republik Indonesia yang bergerilya dalam perjuangan melawan penjajah masuk ke Yogyakarta dan kembali ke keluarga masing-masing.

Dalam perkembangan selanjutnya organisasi perkumpulan keluarga berencana Indonesia berubah menjadi lembaga semi permerintah pada tanggal 17 Oktober 1968 dengan nama Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional yang merupakan badan resmi dari pemerintah yang bertanggung jawab terhadap program Keluarga Berencana di Indonesia.

 

Dikutip dari berbagai sumber

Having Positive Contributions