Jauh sebelum saya memutuskan untuk menjadi seorang tenaga kesehatan, saya bekerja di Taiwan. Kerinduan akan kehidupan spiritual membawa saya pada sebuah mimpi untuk dapat merasakan suasana baitullah pada setiap pijakan langkah yang saya buat. Di tahun 2008, saya banyak mendengar cerita dari teman-teman tenaga kesehatan yang bekerja di Arab tentang betapa kehidupan disana telah memberikan banyak perubahan yang cukup signifikan bagi mereka. Pekerjaan adalah bukan tentang mencari banyaknya materi namun yang jauh lebih penting adalah tentang keberkahan dari rizki yang kita dapat. Tekad itu datang semakin kuat, saya begitu termotivasi untuk dapat menyusul teman-teman saya di Arab.

Kembali dari Taiwan, saya memilih melanjutkan pendidikan di STIKes Indramayu. Saya memilih kebidanan karena bagi saya profesi ini cukup relevan dengan pilihan bekerja sebagai tenaga kesehatan di Saudi. Awal berdaptasi untuk menjalani kehidupan sebagai mahasiswa cukup membuat saya kesulitan. Saya dihadapkan dengan tumpukan tugas dan kegiatan praktik yang sangat melelahkan. Namun, dari rangkaian tugas tersebut justru kembali membuat saya tersadar bahwa bekerja sebagai tenaga kesahatan adalah sebuah profesi yang sangat mulia. Dimana bagi kami, ibadah tidak hanya dilakukan pada tempat-tempat peribadahan sambil khusyuk menundukan kepala, namun ibadah itu justru ada tepat di mata kami. Kami hanya perlu ikhlas.

Mimpi untuk dapat bekerja di Baitullah terus saya jaga selama kehidupan di perkuliahan. Setelah yudisium dan saya dinyatakan lulus, saya memulai untuk mencari informasi lowongan pekerjaan Tenaga Kesehatan di Arab Saudi. Informasi bekerja di Arab tidak lantas saya dapatkan dengan mudah, butuh proses yang cukup panjang. Dalam masa tunggu tersebut, saya sempat diberikan tawaran pekerjaan di beberapa klinik. Sempat saya berpikir untuk mengakhiri mimpi saya dan menerima tawaran tersebut tapi saya coba untuk meyakinkan diri kembali bahwa ini baru permulaan. A dream doesn’t become reality through magic, it takes sweat, determination and hard work. Saya kembali menguatkan azzam saya untuk bekerja di Arab Saudi, tidak perduli berapa banyak halangan yang harus saya lewati.

Kesempatan untuk mewujudkan mimpi itu akhirnya datang, saya bertemu dengan Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia yang sekaligus menyediakan visa tenaga kesehatan ke Saudi. Alhamdulillah, untuk tes tulis Allah memudahkan langkah saya. Saya dinyatakan lulus test tulis dan kesehatan yang seharusnya dapat langsung memberangkatkan saya ke Arab Saudi. Namun, sepertinya skenario Allah berkata lain. Pasport saya bermasalah sehingga saya tidak bisa langsung diberangkatkan ke Arab. Tanggal lahir yang tertulis pada passport berbeda dengan ijazah saya. Tidak tergambarkan betapa buruk perasaan saya saat itu, sedih, marah, kecewa dan bahkan hampir putus asa. Tapi dari kejadian tersebut saya belajar satu hal yang benar-benar merubah pola pikir saya tentang hidup. Terkadang kita terlalu men-Tuhankan atas semua ikhtiar yang kita lakukan sehingga kita menjadikanya sebagai satu-satunya tolak ukur atas keberhasilan atau kegagalan yang kita dapat. Kita lupa bahwa kasih sayang Allah atas takdir hidup berada jauh diatas segalanya. Saya mulai melakukan intropeksi diri sambil terus berdoa kepada Allah untuk memudahkan semua urusan saya. Saya juga kembali menata hati dan niat saya, bahwa bekerja di Arab Saudi adalah salah satu perjalanan spiritual yang ingin saya gapai bukan hanya karena banyaknya materi.

Butuh waktu satu tahun bagi saya, hingga pada akhirnya saya bisa bekerja di Arab. Alhamdulillah, saya benar-benar merasakan kasih sayang Allah. Pekerjaan ini membawa saya menjadi pribadi yang Insya Allah lebih baik. Selama berada di sini saya sudah beberapa kali melaksanakan ibadah umroh dan untuk saat ini masih menunggu giliran untuk melaksanakan ibadah haji. Untuk kehidupan perawat di Arab sebenarnya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Yang membedakan hanya komunikasi saja, kami dituntut untuk mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris dengan Dokter dan Perawat dari Negara lain. Untuk komunikasi dengan pasien, biasanya kami menggunakan bahasa Arab. Satu hal yang menarik dari budaya di Arab adalah tentang bagaimana mereka sangat membatasi pergaulan antara pria dan wanita. Sebagian besar fasilitas umum terbagi menjadi dua yaitu untuk pria dan wanita.

Menurut penilaian saya, kesempatan bekerja sebagai tenaga kesehatan di luar negeri sangat terbuka luas bagi kita. Hanya saja memang butuh kesungguhan hati dan kerja keras untuk dapat mewujudkanya. Pesan saya untuk mahasiswa STIKes Indramayu, jika kita ingin bekerja dan mengembangkan kapasitas diri dengan menjadi tenaga kesehatan level internasional, kuncinya hanya satu ‘Jangan Menyerah’. Saya tidak menampik bahwa pasti akan banyak mendapatkan halangan dan hambatan namun sejauh kita tidak menyerah, Insya Allah semuanya pasti akan terlewati.

 

If you can’t fly, then run

If you can’t run, then walk

If you can’t walk, then crawl

But whatever you do.

You have to keep moving forward

          Martin Luther King Jr.

Having Positive Contributions