Tanggal 14 November diperingati sebagai Hari Diabetes Sedunia. Setiap tahunnya masyarakat dari berbagai Negara memanfaatkan hari diabetes dengan melakukan aksi kampanye kesadaran global terhadap diabetes mellitus. Angka kejadian diabetes melitus cenderung mengalami kenaikan diberbagai Negara terutama pada kaum perempuan.

Pada beberapa penelitian mengungkapkan bahwa tingginya angka diabetes pada perempuan dikaitkan erat dengan tingginya angka obesitas pada perempuan yang meningkat secara signifikan beberapa tahun terakhir dibandingkan dengan laki-laki. Di Indonesia, angka obesitas pada perempuan meningkat dari 14,8% (2007) menjadi 32,9% (2013), sedangkan laki-laki hanya 13,9% menjadi 19,7%. Ketua umum Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Prof Sidartawan Soegondo menjelaskan, jika diabetes tidak diintervensi dengan baik maka penyakit ini akan menimbulkan komplikasi dan mengakibatkan kecacatan, bahkan kematian. Diantaranya luka yang cukup sulit sembuh, bahkan bisa terjadi pembusukan pada kaki dan berakibat diamputasi. Juga bisa menyebabkan kebutaan dan katarak dini, gagal ginjal, penyumbatan pembuluh darah jantung yang mengakibatkan penyakit jantung koroner, terjadi gangguan saraf berupa kesemutan, baal, stroke, dan impotensi.

Sedangkan beberapa penelitian yang dilakukan di Australia mengungkapkan bahwa Perempuan yang mengidap diabetes tipe 1 menghadapi resiko kematian yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan Pria. Para ilmuwan dari Universitas Queensland melakukan analisa data terhadap 26 studi kasus, yang melibatkan 200.000 penderita diabetes. Mereka menemukan bahwa perempuan memiliki 40% resiko kematian yang lebih besar karena berbagai penyebab. Prof. Rachel Huxley selaku ketua peneliti menyatakan bahwa perbedaan antar gender untuk penyakit-penyakit tertentu akan memiliki dampak klinis besar terhadap bagaimana perempuan dengan diabetes tipe 1 dirawat dan menjalani hidup mereka.

Ironisnya, hampir 70% dari penderita tidak mengetahui dirinya sedang mengalami diabetes. Karena itulah sebagian besar ketika terdeteksi sudah menuju pada komplikasi, hingga akhirnya meninggal. Sementara pada perempuan, gejala diabetes sedikit berbeda dengan yang dialami oleh kaum pria. Berikut beberapa tanda dan gejala diabetes pada perempuan :

  1. Infeksi ragi dan luka di vagina yang berulang

Gejala diabetes pada wanita bisa diawali dengan adanya infeksi jamur pada vagina. Gejala awalnya bisa meliputi gatal, nyeri, keputihan, dan rasa sakit saat berhubungan seks. Infeksi vagina ini disebabkan oleh pertumbuhan jamur candida yang berlebih karena dipicu oleh kadar glukosa tubuh yang terlalu tinggi. Infeksi ragi yang kambuhan berulang kali, kemudian bisa berkembang menjadi luka di vagina.

      2. Terkena ISK berulang

Wanita pada dasarnya sangat berisiko terkena infeksi saluran kencing (ISK). Risiko ini bisa meningkat jika Anda memiliki diabetes. ISK terjadi saat bakteri masuk ke saluran kemih. Hasilnya, infeksi ini bisa menyebabkan buang air kecil terasa sakit bahkan kencing berdarah.

Jika tidak diobati, hal ini bisa berisiko pada infeksi ginjal. ISK menjadi gejala diabetes pada wanita disebabkan karena sirkulasi darah yang buruk pada ginjal dan saluran kemih. Selain itu, adanya ketidaklancaran sel darah putih yang mengalir melalui aliran darah tidak berfungsi membunuh kuman dan bakteri yang masuk.

      3. Disfungsi seksual wanita

Neuropatik diabetik bisa menjadi salah satu gejala diabetes pada wanita. Kondisi ini terjadi ketika glukosa darah dalam kadar yang tinggi, sehingga merusak serabut beberapa saraf tubuh. Hal ini dapat memicu kesemutan dan hilangnya perasaan di berbagai bagian tubuh, termasuk tangan, kaki, dan kaki. Kondisi ini juga dapat memengaruhi sensasi di daerah vagina dan menurunkan dorongan seksual wanita.

      4. Sindrom ovarium polikistik

Ciri wanita yang mengidap gejala diabetes juga dapat mirip dengan penderita sindrom ovarium polikistik (PCOS). Kelainan ini terjadi ketika kelenjar adrenal menghasilkan hormon pria yang lebih tinggi (hiperandrogenisme) dan terjadi resistensi insulin. Tanda-tanda Anda mengidap sindrom ovarium polikistik meliputi jadwal menstruasi yang tidak teratur, berat badan bertambah, jerawat, dan bahkan merasa depresi. Sindrom ini juga dapat menyebabkan ketidaksuburan serta peningkatan kadar gula darah.

 

Let's Have Positive Contributions

 

*Dikutip dari berbagai sumber