Saya selayaknya mahasiswa pada umumnya banyak menghabiskan waktu-waktu saya di ruang kuliah, ruang sekretariat BEM, dan pojokan warung-warung kecil untuk menghabiskan makan siang sambil berbincang obrolan kosong khas mahasiswa. Saat itu impian saya sederhana, kuliah tepat waktu lalu mendapatkan pekerjaan sebagai perawat di Indramayu. Tak terlintas sedikitpun untuk berkarir melintasi beberapa Negara dan harus terpisah jauh dengan keluarga.

Kisah saya berawal dari sebuah presentasi tahunan yang diadakan oleh kampus STIKes Indramayu, tempat saya menimba ilmu yang bekerja sama dengan LPK Bahana Inspirasi Muda mengenai Program perawat ke jepang yaitu program IJ- EPA (Indonesia Japan - Economic Partnership Agreement). Itulah saat pertama saya merasakan jatuh cinta dengan Jepang, terpesona dengan kemajuan tekhnologi yang mereka punya tanpa sedikitpun meninggalkan nilai-nilai arif kebudayaan mereka. saya tertarik dengan banyaknya tempat-tempat mempesona yang ada di Jepang dan saya ingin melihat tempat itu diatas pijakan kaki saya sendiri. Satu yang saya yakini, karir sebagai perawat adalah jembatan saya untuk membawa saya ke Negara tersebut.

Saya mulai membangun mimpi saat itu, saya mulai mencari informasi-informasi terkait pekerjaan perawat di negeri Jepang. Ada beberapa prosedur yang harus saya lewati sebelum dinyatakan saya cukup kompeten untuk bisa bekerja di Jepang. Tahap awal adalah mengikuti tes yang diselenggarakan oleh BNP2TKI. Sebelum ujian seleksi, saya mendaftar ujian seleksi beasiswa pelatihan bahasa yang diselenggarakan oleh yayasan Bima tapi karena kurangnya persiapan membuat saya gagal. Namun bukankah arwah mimpi kita berada pada seberapa besar keyakinan kita untuk bertahan dan memperjuangkanya. Inilah yang membuat saya bertahan dengan mimpi saya untuk bekerja di negeri Jepang. Justru dari kegagalan itu membuat saya semakin kuat. Saya mulai menganalisa kekurangan yang saya punya dan mempersiapkan beberapa hal yang saya perlukan untuk lulus ujian BNP2TKI.

Pendaftar program IJ-EPA cukup banyak yang datang dari seluruh Indonesia. Strategi saya saat itu adalah mengambil kelas bahasa jepang selama 3 bulan di Bandung yang diselenggarakan oleh LPK Bahana Inspirasi Muda. Meskipun program IJ-EPA tidak mengharuskan bisa bahasa jepang tapi saya yakin ketika saya punya kapasitas yang lebih dibanding pelamar yang lain maka itu akan menjadi bahan pertimbangan. Proses pembelajaran bahasa jepang cukup menguras emosi dan mental saya. Jepang mempunyai 3 jenis huruf yaitu Hiragana, Katakana, dan Kanji. Dan tingkatan yang terulit adalah huruf Kanji dimana dalam satu huruf Kanji bisa memiliki beberapa arti. Ini tidak mudah bagi saya namun motivasi keluarga dan keinginan untuk membantu perekonomian keluarga meyakinkan saya untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Bekerja di Negara Jepang, bagaimanapun caranya saya harus mengeksekusi mimpi ini.

Proses yang tidak akan pernah menghianati hasil, inilah yang saya rasakan ketika pada akhirnya saya dinyatakan lulus program IJ-EPA. Perjalanan panjang yang melelahkan selama beberapa bulan akhirnya terbayar dengan dinyatakan lulusnya saya bekerja ke Jepang. Bekerja di Negara Jepang benar-benar membuka luas wawasan saya. Manusia pada beberapa pilihan hidup dilahirkan dengan beberapa kekurangan namun saya yakin bahwa Allah tidak membatasi kita untuk melawan keterbatasan tersebut. Negara Jepang terkenal dengan etos kerja yang sangat tinggi dan karakter manusia yang sangat disiplin dan pekerja keras. Inilah cara mereka melawan keterbatasan yang kadang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Jika saya menyerah dan berkata bahwa saya tidak mungkin dapat belajar bahasa Jepang maka saat itulah saya membuat batas pada diri saya.

Batas-batas diri itulah yang menghambat kita untuk maju dan berkembang. Jika saya menyerah, saya mungkin tidak akan pernah merasakan bagaimana indahnya hidup di negara dengan 4 musim (haru/semi, natsu/panas, aku/gugur dan fuyu/dingin) untuk melihat bunga sakura berguguran atau duduk-duduk dibawah pohon sakura sambil makan dan minum bersama teman di musim semi, orang jepang menyebutkanya sebagai o hanami.  Lawan keterbatasan, itulah cara saya bertahan. Selama di Jepang saya juga mulai membuka diri dengan kehidupan di Jepang. Saya tergabung dengan IPMI (Ikatan Perawat Muslim Indonesia) yang setiap 3 bulan rutin mengadakan pengajian. Saya kerap terpilih sebagai pengisi acara untuk kegiatan akbar yang diadakan oleh KMII (Keluarga Masyarakat Islam Indonesia) seperti seminar Teuku Wisnu dan Saptuari Sugiarto. Saya juga diikutsertakan dalam lomba pemadam kebakaran antar perusahaan se kota Ome Tokyo yang pada tahun ini mendapat juara 1 dimana pada tahun ini hanya saya satu-satunya orang asing yang ikut serta. Pengalaman lain yang cukup menarik di Negara Jepang adalah pendakian gunung Fuji. Untuk pengalaman pendakian gunung Fuji ini telah saya dokumentasikan dan ditayangkan oleh NET TV pada program Cititizen Journalist.

 

Perlombaan pemadam kebakaran sekota Ome Tokyo

 

Berbagai pengalaman berharga yang saya dapatkan di Negara Jepang membuka mata saya bahwa peluang bekerja sebagai perawat di Jepang dan beberapa Negara maju lainya seperti Arab, Taiwan dan Kanada seharusnya dimanfaatkan oleh teman-teman perawat di Indonesia. Kesempatan ini datang tiap tahun jadi bagi adik-adik di STIKes Indramayu yang baru saja Wisuda dan telah lulus Uji Kompetensi saya tantang untuk menyusul saya. Bekerja di Negara maju akan banyak membuka wawasan dan pengalaman kita bahwa kita sebagai manusia dianugerahi berbagai potensi oleh Allah. Bagi adik-adik yang masih menempuh kuliah, saya sarankan untuk belajar bersungguh-sungguh, terlibat dalam organisasi dan tingkatkan kemampuan bahasa asing. Let’s break the limits! Dan Ayo Susul Saya!

 

Instagram : hifni_af

Yotube : NARUHODO CHANNEL